skip to main |
skip to sidebar
belajar mendaki ~
Di
balik sebuah bukit, ada tebing-tebing yang terjal. terlihat ada seorang
anak laki-laki sedang bersusah payah untuk mendakinya. Pada awalnya dia
sering terjatuh, dan dia pun pulang tanpa membawa keberhasilan untuk
menakhlukkan sebuah tebing.
Pada hari berikutnya, anak itu
memakai sepatu yang sedikit bergerigi untuk menjaga kakinya agar tidak
terjatuh. Namun masih saja gagal. Hari berikutnya dia membawa tali dan
pasak-pasak kecil, dia pun mulai mendaki tanpa terjatuh.
Setelah berhasil mendaki sampai setengah tinggi tebing itu, anak
laki-laki tersebut mulai kelelahan, terlebih lagi ketika panas matahari
membakar kulitnya. Dia tetap mendaki sampai akhirnya dia berhasil
berdiri di atas tebing.
Untuk bisa menaklukkan sebuang tebing,
anak laki-laki itu telah menghabiskan waktu berhari-hari untuk
memperbaiki cara pendakiannya yang salah. Dia pun tak putus asa ketika
kegagalan demi kegagalan selalu ditemuinya.
Bagaimana dengan
kita ketika menghadapi "tebing" kehidupan? Apakah kita lari atau mencoba
untuk mendaki? Dalam setiap pendakian yang akan kita lakukan, kita
tidak bisa mendaki seorang diri. Kita harus memiliki perlengkapan untuk
"mendaki".
Jangan pernah menyerah ketika kita bertemu dengan
kegagalan, karena kegagalan adalah guru terbaik bagi kita untuk menjadi
lebih baik dari sebelumnya. Jika Tuhan mengijinkan kita mengalami sebuah
kegagalan, itu artinya adalah bahwa Tuhan menginginkan kita untuk
memperbaiki diri.
Tetaplah berpegang pada Yesus saat kita
melakukan setiap pendakian. Yesus adalah "pasak-pasak" yang tertancap
dengan kokoh pada tebing-tebing kehidupan. Dan saat kita tidak
melepaskan "pasak" itu, maka kita akan mampu berdiri di atas tebing itu.
Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia,
yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari
pada TUHAN!
Yeremia 17:5
COPYRIGHT© ANGEL ADEL 2012
No comments:
Post a Comment