1. Pendoa
Sebelum
membuat keputusan penting, Yesus berdoa terlebih dahulu. “Pagi-pagi
benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia
pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana (Mrk. 1: 35). Yesus pergi
ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.
Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih
dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul (Luk. 6:
12-13).
Yesus
begitu intim dengan Allah. Maka, apapun yang Ia lakukan selalu sesuai
dengan kehendak Bapa-Nya. Seorang pemimpin mesti beguru pada sikap
Yesus. Modal utama pemimpin dalam merealisasikan (mewujudkan) tanggung
jawabnya serta visi dan misinya adalah kekuatan doa (daya
spiritual). Kesatuan pemimpin dengan Allah, menjadi semangat yang
berkobar untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Bahkan menjadi
sumber kebijaksanaan pemimpin dalam mengemban tugasnya.(6)
2. Pelayan
Yesus pernah bersabda: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah
bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan
pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.
Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di
antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin
menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk
semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani,
melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan
bagi banyak orang.” (Mrk. 10: 42-45). Pemimpin yang memiliki jiwa
pelayan selalu berusaha mengambil keputusan yang mengarah pada bonum commune (kebaikan/keuntungan bersama) dan bukan semata-mata demi mencapai bonum private (keuntungan pribadi).(7) Yesus menggunakan istilah pelayan itu berarti pemimpin adalah bukan tipe Nato (no action talk only). Pemimpin adalah orang yang mau bertindak dan menyadari tanggung jawabnya.
Dan, yang patut diperhatikan oleh pemimpin adalah kata-kata bijak dari Ken Blanchard: “Semua
pemimpin yang berjuang untuk menghasilkan hal-hal baik harus dapat
mengeluarkan yang terbaik dari dalam dirinya dan orang lain.
Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam diri, yakni melalui hati yang mau
melayani, lalu keluar untuk melayani orang lain.”(8)
3. Memiliki responsibility (bertanggung jawab)
Responsibility berasal dari dua kata. Response: tanggapan, tindakan, jawaban. Ability: kemampuan, kesanggupan. Jadi, responsibility
adalah kemampuan bertindak, kesanggupan menanggapi. Seorang pemimpin
harus memiliki kepekaan pada tanggung jawabnya. Tanggung jawab adalah
semangat hidup seorang pemimpin. Dalam Kitab Suci, kita sering
mendengar: jika kita bisa menyelesaikan perkara kecil maka kepada kita
akan dipercayakan untuk melakukan pekerjaan besar (minora servabis, mayora te servabit).
Lancar atau tidaknya sebuah organisasi tergantung pada kesadaran
pemimpin akan tanggung-jawabnya. Oleh karena itulah, dalam mengemban dan
merealisasikan tanggung-jawabnya, seorang pemimpin mesti bersikap
persuasif. Pemimpin berusaha untuk tidak meluki hati siapapun.
4. Teladan
Yesus adalah teladan yang baik. Maka
Ia disegani. Pengaruh-Nya luar biasa sehingga orang Farisi “membenci
Yesus”. Kata-kata Yesus banyak yang mendengarkan ketimbang kata-kata
orang Farisi. Mengapa, kata-kata Yesus “berbisa”? Karena Dia selalu
menerapkan semangat Truth-telling (9): mengatakan
benar jika benar, mengatakan salah jika salah. Mengatakan baik jika
baik dan mengatakan tidak baik jika tidak baik. Sikap radikal Yesus
inilah yang menjadikan Dia memiliki pengaruh dan pengikut.(10) Artinya, Yesus memiliki kualitas hidup yang baik yang patut diteladani.
Seorang pemimpin harus menunjukkan dirinya (show up bukan show off) sebagai pribadi yang patut diteladani melalui: tutur kata, sikap, tindakan, dan cara hidup.
Yesus menunjukkan keteladanan kepemimpinan-Nya dengan jalan:
a. menjadi
panutan, memberikan teladan kehidupan (yakni semangat pelayanan)
ketimbang memberikan perintah dan aturan-aturan yang memaksa.
b. Menjadikan diri dan kehidupan-Nya sebagai teladan moralitas. Tidak ada kesalahan dan kejahatan dalam hidup/diri-Nya
c. Transparan:
semua orang dapat menilai dan mengalisis diri-Nya. Yesus juga tidak
berbicara dengan sembunyi-sembunyi melainkan dengan lantang menyuarakan
kebenaran dan kebaikan berdasarkan iman akan Bapa-Nya.(11)
Seorang pemimpin harus menunjukkan teladan yan baik dan kemudian melatih orang lain untuk mengikutinya.
Itulah yang diterapkan oleh Yesus kepada para muridNya. Maka, kita yang
berprofesi sebagai pemimpin harus mampu melatih orang lain untuk
menjadi pemimpin yang handal dan yang sadar akan tanggung jawabnya.
5. Pemersatu
Yesus
mencari dombanya yang hilang, walau hanya seekor. Ini adalah jiwa
kepemimpinan: mencari orang yang menarik diri dari komunitasnya. Yesus
mempersatukan domba yang terpisah dari komunitasnya. Sebagai seorang
pemimpin harus berusaha mempersatukan orang-orang yang ia pimpin/tuntun.
Pemimpin adalah pribadi yang berperan sebagai mediator, navigator dan problem solver
(pemecah masalah). Pemimpin berusaha mengurangi masalah (yang membuat
orang tidak bersatu) dan bukan menambah masalah ( trouble/problem
maker).
6. Rendah hati
Pemimpin
yang menempatkan dirinya sebagai pelayan berarti dia memiliki semangat
yang rendah hati. Ia juga tidak hanya berkata: sungai itu kotor
melainkan ia mau membersihkan sungai tersebut.(12)
Orang yang rendah hati adalah orang yang mau “turun” langsung melihat
realitas/kenyataan hidup. Dalam Flp. 2: 5-11, di situ ditampilkan
semangat Yesus yang sangat rendah hati. Yesus tidak sombong dengan
kesalehan hidup-Nya atau karena Dia Allah. Kerendahan hati seorang
pemimpin tampak juga dalam sikapnya yang mau mendengar kritik dari orang
lain. Mau memperbaharui diri. Dia tidak menempatkan diri sebagai superior tetapi sebagai socius (teman/sahabat) yang solider.
7. Self-critical (introspeksi)
zaman sekarang yang
diharapkan dari setiap pemimpin adalah kemampuan dan kesediaannya untuk
melakukan pemeriksaan batin: apakah kepemimpinannya mengarah pada jalur
yang baik dan benar. Seorang pemimpin haru bersedia mengoreksi dirinya
sendiri.(13) Ia mesti
memeriksa batinnya apakah semangat kepemimpinannya sesuai dengan
semangat kepemimpinan Yesus atau jangan-jangan hanya didasari oleh
semangat egoisme dirinya sendiri.
8. Visioner dan inisiator
Pemimpin
harus memiliki kepekaan untuk melihat visi yang tepat demi kelancaran
kepemimpinannya. Seorang pemimpin mesti idealnya adalah pribadi yang
visioner. Dalam arti, mampu membaca dan merespons tanda-tanda zaman
secara bijaksana. Selain itu, ia mampu melihat yang lebih baik dan
penting bagi kelancaran organisasinya. Hal ini memang membutuhkan daya
kepekaan. Tanpa kepekaan seorang pemimpin tidak mampu bertindak sebagai
inisiator. Pemimpin tidak semata-mata berfungsi sebagai to lead (memimpin) tetapi sekaligus to manage (mengatur/mengurus) dalam arti ia bersedia mendelegasikan kepemimpinan kepada bawahannya.
9. Profesional
Seorang pemimpin dianggap professional jika ia membatinkan 8 etos kerja professional.(14)
- Menjalankan kepemimpinannya penuh syukur dan ketulusan/keikhlasan hati.
- Menjalankan kepemimpinannya dengan benar, penuh tanggung jawab dan akuntabilitas
- Bekerja sampai tuntas, penuh kejujuran dan keterbukaan
- Menjalankan kepemimpinannya penuh daya optimisme dan antusiasme.
- Bekerja serius penuh kecintaan dan sukacita
- Kreatif serta inovatif dalam menjalankan tugasnya.
- Bekerja secara tekun, berkualitas dan unggul
- Bekerja dengan dilandasi kebajikan dan kerendahan hati.
10. Tegas
Seorang pemimpin tidak boleh plin-plan. Dia harus tegas sekaligus bijak dalam mengambil keputusan. Seorang pemimpin mesti berani memutuskan apapun resikonya. Figur pemimpin semacam ini idealnya mesti memiliki self-confidence (kepercayaan diri) yang tinggi. Pemimpin yang tak memiliki self-confidence
akan ragu-ragu memutuskan hal-hal yang urgen. Ini bahaya. Yesus, berani
memutuslan untuk berpihak pada kaum pendosa, sakit, dan miskin walaupun
nyawa-Nya melayang. Yesus sadar, setiap keputusan
pasti ada konsekuensi, entah negatif atau positif. Artinya, Yesus mampu
menguasai keadaan dan tidak dikuasai oleh keadaan. Nah, seorang pemimpin
jangan sampai berani memberi keputusan setelah ada desakan/paksaan. Itu
berarti pemimpin tersebut dikuasai oleh keadaan.
No comments:
Post a Comment